“Money can’t buy you happiness, but it does bring you a more pleasant form of misery.” ~ Spike Milligan
“Money can’t buy you happiness, but it can buy you a yacht big enough to pull up right alongside it.” ~ David Lee Roth
Penelitian yang dilakukan Center for Human Resource Research di Ohio State University baru-baru ini menemukan bahwa orang-orang supercerdas pun tak selalu lebih baik (atau lebih buruk) daripada orang kebanyakan dalam hal pengelolaan keuangan. Orang-orang dengan kecerdasan relatif rendah pun bisa jadi lebih baik dalam hal stay away from financial distress daripada orang-orang supercerdas. Masih ada harapan buat saya. :)
Makin tinggi kecerdasan seseorang memang kecenderungannya meningkatkan pendapatan. Tapi makin tinggi pendapatan seseorang tidak akan mempengaruhi tingkat kekayaan seseorang. (Yang justru berpengaruh adalah seberapa banyak seseorang bisa saving (atau investing) pada tingkat pendapatan berapa pun.) Dari penelitian saya sepintas memang menegaskan bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi financial quotient seseorang.
- Ambisi. Barangkali inilah powerful drive terbesar untuk mendorong kesuksesan keuangan seseorang.
- Energi, willpower, disiplin. Ada perbedaan besar antara “knowing” dan “implementing”, apalagi dengan disiplin yang terarah.
- Emotional stability. Jujur saja, tak banyak orang yang “intelligent” tetapi punya emotional stability yang bagus.
- Ego & overconfidence. Percayalah, nggak sulit untuk menemukan orang yang, “Gue cerdas, gue pasti bener; yang lain pasti salah.”
Hal-hal semacam itu sifatnya kualitatif dan subyektif—-tak mungkin terukur dari tes IQ. Hal-hal seperti procrastination atau impulsive behavior tak bisa dilihat dari uji kecerdasan yang cenderung kuantitatif. Maybe financial intelligence needs to go into the pot, something some people are naturally good at, others need to work harder at, and a few never will be completely competent in.
Saya jadi ingat Pursuit of Happyness.
Film tersebut mengisahkan tentang “pursuit” dan bukan “happiness.” Di situ diceritakan masa-masa sulit Chris Gardner dan anaknya yang harus hidup melarat di San Francisco Bay Area yang notabene merupakan komunitas orang-orang sangat kaya. Kadang sampai harus tinggal di penampungan gereja Glide Memorial atau tidur di toilet BART stop. Chris enam bulan melalui masa probation tanpa gaji di Dean Witter Reynolds (mungkin kurang dikenal, tapi perusahaan inilah yang meluncurkan Discover Card; kemudian merger dengan Morgan Stanley di tahun 1997).
Ketika Thomas Jefferson menyatakan kemerdekaan 13 negara bagian pada 4 Juli 1776, ia tidak menjanjikan kebahagian bagi orang Amerika, melainkan ia menjamin adanya kepastian dan perlindungan untuk mengejar kebahagiaan tersebut. Ini tercantum pada Declaration of Independence paragraf kedua:
We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness. That to secure these rights, Governments are instituted among Men, Deriving their just powers from the consent of the governed.
Jaminan tersebut mengambil ide John Locke yang mengekspresikan konsep tersebut sebagai “life, liberty, and estate (or property)”. Adam Smith juga mengemukakan frase yang agak serupa, yakni “life, liberty, and the pursuit of property”. Ide tersebut didasarkan pada penghargaan bahwa setiap manusia adalah created equally free and independent. Setiap orang, berhak untuk mengejar any lawful business or vocation, selama tidak melanggar persamaan hak sesama sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masing-masing.
Undang-undang Dasar kita juga menyatakan hal yang serupa di pasal 28H (1) dan agak sedikit berbeda di pasal 28A:
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan… Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Jujur saja, saya kurang paham dengan bahasa legal. Namun, sepintas terlihat ada perbedaan mencolok di sini. Di Amerika, jaminan dan perlindungan ada pada kebebasan dalam proses mengejar kebahagiaan. Sementara di kita, jaminan ada di hasil, yaitu kebahagiaan itu sendiri (hidup sejahtera, bertempat tinggal, mendapat lingkungan baik, dan pelayanan kesehatan).
Tentu saja ini kurang baik. Pertama, ketika pemerintah berani memberi jaminan kebahagiaan rakyat, secara tidak langsung rakyat cenderung “malas” untuk mengejar kebahagiaannya sendiri. Kedua, ketika pemerintah gagal memberikan janjinya, rakyat bisa berbuat apa saja demi memperjuangkan “hak”-nya.
Sebagai contoh, rakyat pinggiran lebih suka tinggal di kolong tol. Mereka bukannya tidak mampu, melainkan menikmati privilese sebagai “orang kaya” sekaligus pembenaran terhadap jaminan kebahagiaan rakyat yang dijanjikan pemerintah. Pendapatan mereka bisa jadi jauh melebihi karyawan di segitiga emas Jakarta.
Sergey Brin, the uber-rich Google guys, pernah diwawancara majalah Time, “How does it feel to suddenly be so wealthy?” Jawab dia, “It takes a lot of getting used to. You always hear the phrase: money doesn’t buy you happiness. But I always in the back of my mind figured a lot of money will buy you at least a little bit of happiness.” Brin juga menegaskan, “If we were motivated by money, we would have sold the company a long time ago and ended up on the beach.”
Apapun itu, yang jelas, it is smart to be dumb but wealthy but it is dumb to be smart but not wealthy. :)
2 komentar:
Hi,
dumb? :)
bgmana profesion kecemasan spt doktor. andaikata orang miskin accident perlu pakar bedah otak segera - tiada wang, tiada bantuan? sedih kan.
ramai orang smart berkorban sbnrnya.
& saya salute mereka walau mrk miskin. Cuma Tuhan SWT mengkayakan mereka selepas meninggal dunia nanti, insya Allah. :D
Amin.
Amin..amin..;)..
ia jg klu d pikir" ya.
Posting Komentar